header3.jpg

BPPT sebagai lembaga yang berperan dalam pengkajian dan penerapan teknologi di Indonesia, mempunyai misi selain memacu perekayasaan teknologi untuk pelayanan publik juga mendukung peningkatan daya saing industri. Lalu apa saja yang telah dilakukan BPPT dan bagaimana industri melihat peran BPPT dalam kegiatan produksi kaitannya dengan teknologi?

Untuk mengelaborasi kesemuanya itu dibahas dalam diskusi akbar yang diselenggarakan pada hari Jumat, 31 Agustus 2012 bertempat di Ruang Komisi Utama BPPT. Diskusi akbar kali ini berbeda dengan yang biasanya dilakukan karena menghadirkan narasumber dari luar BPPT, salah satu pelaku industri, Direktur Hubungan Pemerintah dan Industri Asosiasi Plastik Indonesia, Yoesoef Santo.

Beberapa pernyataan kritis disampaikan mengenai peran BPPT dalam mendukung industri nasional dilihat dari kacamata pelaku industri. Salah satu kelemahan BPPT yang menjadi sorotan adalah promosi dan publikasi hasil. Kemudian mengenai kuantifikasi hasil, memang masih lemah BPPT jarang sekali dipaparkan secara kuantitatif. “Dengan SDM yang mumpuni yang dimiliki BPPT, seharusnya BPPT dapat lebih berperan dalam mendukung daya saing industri nasional,” ungkap Yoesoef.

Sebagai pelaku industri plastik, disampaikan pula olehnya beberapa paparan mengenai material plastik. Menurutnya, penggunaan plastik tidak hanya sebatas untuk alat-alat sederhana, melainkan juga untuk alat-alat yang lumayan kompleks. Bahkan dewasa ini penggunaan plastik untuk dunia industri sudah bukanlah hal yang asing lagi.

Lebih daripada itu, plastik pada mulanya hanyalah bahan yang dipandang sebelah mata. Keistemewaa plastik adalah karena sifatnya yang ringan, tidak mudah pecah dan murah. Namun dibalik itu semua, plastik bisa menimbulkan masalah lingkungan yang komplek.